Loading...

Pengertian dan Ruang lingkup Pengemasan

Written By Bengkel Mesin Packing on Kamis, 26 Januari 2012 | 07.22

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PENGEMASAN

Pengemasan disebut juga pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan merupakan salah
satu cara pengawetan bahan hasil pertanian, karena pengemasan dapat memperpanjang umur
simpan bahan. Pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat membantu mencegah atau
mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada bahan yang dikemas / dibungkusnya.
Sebelum dibuat oleh manusia, alam juga telah menyediakan kemasan untuk bahan pangan,
seperti jagung dengan kelobotnya, buah-buahan dengan kulitnya, buah kelapa dengan sabut dan
tempurung, polong-polongan dengan kulit polong dan lain-lain. Manusia juga menggunakan
kemasan untuk pelindung tubuh dari gangguan cuaca, serta agar tampak anggun dan menarik.
Dalam dunia moderen seperti sekarang ini, masalah kemasan menjadi bagian kehidupan
masyarakat sehari-hari, terutama dalam hubungannya dengan produk pangan. Sejalan dengan itu
pengemasan telah berkembang dengan pesat menjadi bidang ilmu dan teknologi yang makin canggih.
Ruang lingkup bidang pengemasan saat ini juga sudah semakin luas, dari mulai bahan yang
sangat bervariasi hingga model atau bentuk dan teknologi pengemasan yang semakin canggih dan
menarik. Bahan kemasan yang digunakan bervariasi dari bahan kertas, plastik, gelas, logam, fiber
hingga bahan-bahan yang dilaminasi. Namun demikian pemakaian bahan-bahan seperti papan
kayu, karung goni, kain, kulit kayu , daun-daunan dan pelepah dan bahkan sampai barang-barang
bekas seperti koran dan plastik bekas yang tidak etis dan hiegenis juga digunakan sebagai bahan
pengemas produk pangan. Bentuk dan teknologi kemasan juga bervariasi dari kemasan botol, kaleng,
tetrapak, corrugated box, kemasan vakum, kemasan aseptik, kaleng bertekanan, kemasan tabung
hingga kemasan aktif dan pintar (active and intelligent packaging) yang dapat menyesuaikan kondisi
lingkungan di dalam kemasan dengan kebutuhan produk yang dikemas. Minuman teh dalam
kantong plastik, nasi bungkus dalam daun pisang, sekarang juga sudah berkembang menjadi kotakkotak
katering sampai minuman anggur dalam botol dan kemasan yang cantik berpita merah.
Susunan konstruksi kemasan juga semakin kompleks dari tingkat primer, sekunder, tertier
sampai konstruksi yang tidak dapat lagi dipisahkan antara fungsinya sebagai pengemas atau sebagai
unit penyimpanan, misalnya pada peti kemas yang dilengkapi dengan pendingin (refrigerated
container) berisi udang beku untuk ekspor.
Industri bahan kemasan di Indonesia juga sudah semakin banyak, seperti industri penghasil
kemasan karton, kemasan gelas, kemasan plastik, kemasan laminasi yang produknya sudah mengisi
kebutuhan masyarakat dan dunia industri. Di samping itu hingga saat ini di pedesaan masih banyak
dijumpai masyarakat yang hidup dari bahan pengemas tradisional, seperti penjual daun
pembungkus (daun pisang, daun jati, daun waru dan sebagainya), atau untuk tingkat industri
rumah tangga terdapat pengrajin industri keranjang besek, kotak kayu, anyaman serat, wadah dari
tembikar dan lain-lain.
Industri kemasan di negara-negara maju telah lama berkembang menjadi perusahaanperusahaan
besar yang bergerak dalam usaha produksi bahan atau produk pengemas seperti kaleng
(American Can Co), karton (Pulp and Paper Co), plastik (Clearpack), botol plastik PET (Krones), kemasan
kotak laminasi (Tetrapak, Combibloc), gelas, kertas lapis, kertas alumunium dan lain-lain yang
produknya diekspor ke berbagai belahan dunia. Industri lain yang berkaitan dengan pengemasan
adalah industri penutup kemasan seperti penutup botol (Bericap), industri sealer meachine dan industri
pembuat label dan kode pada kemasan.

B. FUNGSI DAN PERANAN KEMASAN

Fungsi paling mendasar dari kemasan adalah untuk mewadahi dan melindungi produk dari
kerusakan-kerusakan, sehingga lebih mudah disimpan, diangkut dan dipasarkan. Secara umum
fungsi pengemasan pada bahan pangan adalah :
1. Mewadahi produk selama distribusi dari produsen hingga kekonsumen, agar produk tidak
tercecer, terutama untuk cairan, pasta atau butiran
2. Melindungi dan mengawetkan produk, seperti melindungi dari sinar ultraviolet, panas,
kelembaban udara, oksigen, benturan, kontaminasi dari kotoran dan mikroba yang dapat
merusak dan menurunkan mutu produk.
3. Sebagai identitas produk, dalam hal ini kemasan dapat digunakan sebagai alat komunikasi dan
informasi kepada konsumen melalui label yang terdapat pada kemasan.
4. Meningkatkan efisiensi, misalnya : memudahkan penghitungan (satu kemasan berisi 10, 1
lusin, 1 gross dan sebagainya), memudahkan pengiriman dan penyimpanan. Hal ini penting
dalam dunia perdagangan..
5. Melindungi pengaruh buruk dari luar, Melindungi pengaruh buruk dari produk di dalamnya,
misalnya jika produk yang dikemas berupa produk yang berbau tajam, atau produk berbahaya
seperti air keras, gas beracun dan produk yang dapat menularkan warna, maka dengan
mengemas produk ini dapat melindungi produk-produk lain di sekitarnya.
6. Memperluas pemakaian dan pemasaran produk, misalnya penjualan kecap dan syrup
mengalami peningkatan sebagai akibat dari penggunaan kemasan botol plastik.
7. Menambah daya tarik calon pembeli
8. Sarana informasi dan iklan
9. Memberi kenyamanan bagi pemakai.
Fungsi ke-6, 7 dan 8 merupakan fungsi tambahan dari kemasan, akan tetapi dengan semakin
meningkatnya persaingan dalam industri pangan, fungsi tambahan ini justru lebih ditonjolkan,
sehingga penampilan kemasan harus betul-betul menarik bagi calon pembeli, dengan cara membuat :
- Cetakan yang multi warna dan mengkilat sehingga menarik dan berkesan mewah
- Dapat mengesankan berisi produk yang bermutu dan mahal
- Desain teknik dari wadahnya memudahkan pemakai
- Desain teknik wadahnya selalu mengikuti teknik mutahir sehingga produk yang
dikemasnya terkesan mengikuti perkembangan terakhir.
Di samping fungsi-fungsi di atas, kemasan juga mempunyai peranan penting dalam industri pangan,
yaitu :
- pengenal jatidiri/identitas produk
- penghias produk
- piranti monitor
- media promosi
- media penyuluhan atau petunjuk cara penggunaan dan manfaat produk yang ada di
dalamnya
- bagi pemerintah kemasan dapat digunakan sebagai usaha perlindungan konsumen
- bagi konsumen kemasan dapat digunakan sebagai sumber informasi tentang isi/produk,
dan ini diperlukan dalam mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut atau tidak.
Kemasan juga mempunyai sisi hitam karena sering disalahgunakan oleh produsen untuk menutupi
kekurangan mutu atau kerusakan produk, mempropagandakan produk secara tidak proporsional
atau menyesatkan sehingga menjurus kepada penipuan atau pemalsuan.
Pengemasan bahan pangan juga dapat menambah biaya produksi, dan ada kalanya biaya kemasan
dapat jauh lebih tinggi dari harga isinya. Untuk produk yang dikonsumsi oleh kelompok konsumen
yang mengutamakan pelayanan, maka hal ini tidak menjadi masalah, akan tetapi untuk produkproduk
yang dikonsumsi oleh masyarakat umum maka biaya pengemasan yang tinggi perlu
dihindari. Biaya pengemasan utama sekitar 10-15% dari biaya produk dan biaya kemasan tambahan
sekitar 5-15% dari biaya produk.

C. KLASIFIKASI KEMASAN

Kemasan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara yaitu :
1. Klasifikasi kemasan berdasarkan frekwensi pemakaian :
a. Kemasan sekali pakai (disposable) , yaitu kemasan yang langsung dibuang setelah dipakai.
Contoh bungkus plastik untuk es, permen, bungkus dari daun-daunan, karton dus minuman
sari buah, kaleng hermetis.
b. Kemasan yang dapat dipakai berulangkali (multitrip), contoh : botol minuman, botol kecap,
botol sirup. Penggunaan kemasan secara berulang berhubungan dengan tingkat kontaminasi,
sehingga kebersihannya harus diperhatikan.
c. Kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi
disposable), tapi digunakan untuk kepentingan lain oleh konsumen, misalnya botol untuk tempat
air minum dirumah, kaleng susu untuk tempat gula, kaleng biskuit untuk tempat kerupuk,
wadah jam untuk merica dan lain-lain. Penggunaan kemasan untuk kepentingan lain ini
berhubungan dengan tingkat toksikasi.
2. Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan kemasan) :
a. Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung mewadahi atau membungkus bahan
pangan. Misalnya kaleng susu, botol minuman, bungkus tempe.
b. Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang fungsi utamanya melindungi kelompok-kelompok
kemasan lain. Misalnya kotak karton untuk wadah susu dalam kaleng, kotak kayu untuk buah
yang dibungkus, keranjang tempe dan sebagainya.
c. Kemasar tersier, kuartener yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer,
sekunder atau tersier. Kemasan ini digunakan untuk pelindung selama pengangkutan.
Misalnya jeruk yang sudah dibungkus, dimasukkan ke dalam kardus kemudian dimasukkan ke
dalam kotak dan setelah itu ke dalam peti kemas.
3. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat kekauan bahan kemasan :
a. Kemasan fleksibel yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa adanya retak atau
patah. Misalnya plastik, kertas dan foil.
b. Kemasan kaku yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah bila
dibengkokkan relatif lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu, gelas dan logam.
c. Kemasan semi kaku/semi fleksibel yaitu bahan kemas yan memiliki sifat-sifat antara
kemasan fleksibel dan kemasan kaku. Misalnya botol plastik (susu, kecap, saus), dan wadah
bahan yang berbentuk pasta.
4. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan :
a. Kemasan hermetis (tahan uap dan gas) yaitu kemasan yang secara sempurna tidak dapat
dilalui oleh gas, udara atau uap air sehingga selama masih hermetis wadah ini tidak dapat
dilalui oleh bakteri, kapang, ragi dan debu. Misalnya kaleng, botol gelas yang ditutup secara
hermetis. Kemasan hermetis dapat juga memberikan bau dari wadah itu sendiri, misalnya
kaleng yang tidak berenamel.
b. Kemasan tahan cahaya yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan
logam, kertas dan foil. Kemasan ini cocok untuk bahan pangan yang mengandung lemak dan
vitamin yang tinggi, serta makanan hasil fermentasi, karena cahaya dapat mengaktifkan reaksi
kimia dan aktivitas enzim.
c. Kemasan tahan suhu tinggi, yaitu kemasan untuk bahan yang memerlukan proses
pemanasan, pasteurisasi dan sterilisasi. Umumnya terbuat dari logam dan gelas.
5. Klasifikasi kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pakai (perakitan) :
a. Wadah siap pakai yaitu bahan kemasan yang siap untuk diisi dengan bentuk yang telah
sempurna. Contoh : botol, wadah kaleng dan sebagainya.
b. Wadah siap dirakit / wadah lipatan yaitu kemasan yang masih memerlukan tahap
perakitan sebelum diisi. Misalnya kaleng dalam bentuk lembaran (flat) dan silinder fleksibel,
wadah yang terbuat dari kertas, foil atau plastik. Keuntungan penggunaan wadah siap dirakit
ini adalah penghematan ruang dan kebebasan dalam menentukan ukuran.

D. JENIS-JENIS KEMASAN UNTUK BAHAN PANGAN


Berdasarkan bahan dasar pembuatannya maka jenis kemasan pangan yang tersedia saat ini
adalah kemasan kertas, gelas, kaleng/logam, plastik dan kemasan komposit atau kemasan yang
merupakan gabungan dari beberapa jenis bahan kemasan, misalnya gabungan antara kertas dan
plastik atau plastik, kertas dan logam. Masing-masing jenis bahan kemasan ini mempunyai
karakteristik tersendiri, dan ini menjadi dasar untuk pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk
produk pangan. Karakteristik dari berbagai jenis bahan kemasan adalah sebagai berikut :
1. Kemasan Kertas
- tidak mudah robek
- tidak dapat untuk produk cair
- tidak dapat dipanaskan
- fleksibel
2. Kemasan Gelas
- berat
- mudah pecah
- mahal
- non biodegradable
- dapat dipanaskan
- transparan/translusid
- bentuk tetap (rigid)
- proses massal (padat/cair)
- dapat didaur ulang
3. Kemasan logam (kaleng)
- bentuk tetap
- ringan
- dapat dipanaskan
- proses massal (bahan padat atau cair)
- tidak transparan
- dapat bermigrasi ke dalam makanan yang dikemas
- non biodegradable
- tidak dapat didaur ulang
4. Kemasan plastik
- bentuk fleksibel
- transparan
- mudah pecah
- non biodegradable
- ada yang tahan panas
- monomernya dapat mengkontaminasi produk
5. Komposit (kertas/plastik)
- lebih kuat
- tidak transparan
- proses massal
- pengisian aseptis
- khusus cairan
- non biodegradable
Selain jenis-jenis kemasan di atas saat ini juga dikenal kemasan edible dan kemasan biodegradable.
Kemasan edible adalah kemasan yang dapat dimakan karena terbuat dari bahan-bahan yang dapat
dimakan seperti pati, protein atau lemak, sedangkan kemasan biodegradable adalah kemasan yang
jika dibuang dapat didegradasi melalui proses fotokimia atau dengan menggunakan mikroba
penghancur.
Saat ini penggunaan plastik sebagai bahan pengemas menghadapi berbagai persoalan lingkungan,
yaitu tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat diuraikan secara alami oleh mikroba di dalam tanah,
sehingga terjadi penumpukan sampah palstik yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan bagi
lingkungan. Kelemahan lain adalah bahan utama pembuat plastik yang berasal dari minyak bumi,
yang keberadaannya semakin menipis dan tidak dapat diperbaharui.
Seiring dengan kesadaran manusia akan persoalan ini, maka penelitian bahan kemasan diarahkan
pada bahan-bahan organik, yang dapat dihancurkan secara alami dan mudah diperoleh. Kemasan
ini disebut dengan kemasan masa depan (future packaging). Sifat-sifat kemasan masa depan
diharapkan mempunyai bentuk yang fleksibel namun kuat, transparan, tidak berbau, tidak
mengkontaminasi bahan yang dikemas dan tidak beracun, tahan panas, biodegradable dan berasal dari
bahan-bahan yang terbarukan. Bahan-bahan ini berupa bahan-bahan hasil pertanian seperti
karbohidrat, protein dan lemak.
Pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk bahan pangan, harus mempertimbangkan syarat-syarat
kemasan yang baik untuk produk tersebut, juga karakteristik produk yang akan dikemas. Syaratsyarat
yang harus dipenuhi oleh suatu kemasan agar dapat berfungsi dengan baik adalah :
1. Harus dapat melindungi produk dari kotoran dan kontaminasi sehingga produk tetap
bersih.
2. Harus dapat melindungi dari kerusakan fisik, perubahan kadar air , gas, dan penyinaran
(cahaya).
3. Mudah untuk dibuka/ditutup, mudah ditangani serta mudah dalam pengangkutan dan
distribusi.
4. Efisien dan ekonomis khususnya selama proses pengisian produk ke dalam kemasan.
5. Harus mempunyai ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang
ada, mudah dibuang dan mudah dibentuk atau dicetak.
6. Dapat menunjukkan identitas, informasi dan penampilan produk yang jelas agar dapat
membantu promosi atau penjualan.
Pemilihan jenis kemasan untuk produk pangan ini lebih banyak ditentukan oleh preferensi
konsumen yang semakin tinggi tuntutannya. Misalnya kemasan kecap yang tersedia di pasar adalah
kemasan botol gelas, botol plastik dan kemasan sachet, atau minuman juice buah yang tersedia dalam
kemasan karton laminasi atau gelas palstik, sehingga konsumen bebas memilih kemasan mana yang
sesuai untuknya, dan masing-masing jenis kemasan mempunyai konsumen tersendiri.
Tingginya tuntutan konsumen terhadap produk pangan termasuk jenis kemasannya ini disebabkan
oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Faktor Demografi (umur), dengan adanya program pengaturan kelahiran dan dengan semakin
baiknya tingkat kesehatan maka maka laju pertambahan penduduk semakin kecil tetapi jumlah
penduduk yang mencapai usia tua semakin banyak. Hal ini mempengaruhi perubahan
permintaan akan pangan.
b. Pendidikan yang semakin meningkat, termasuk meningkatnya jumlah wanita yang mencapai
tingkat pendidikan tinggi (universitas), menyebabkan tuntutan akan produk pangan yang
berkualitas semakin meningkat.
c. Imigrasi dari satu negara ke negara lain akan mempengaruhi permintaan pangan di negara
yang dimasuki. Misalnya migrasi kulit hitam ari Afrika dan Asia ke Eropa atau Amerika
mempengaruhi jenis produk pangan di Eropa dan Amerika.
d. Pola konsumsi di tiap negara, misalnya konsumsi daging sapi di Amerika lebih tinggi daripada
di negara-negara Asia.
e. Kehidupan pribadi (lifestyle). Saat ini jumlah wanita yang bekerja sudah lebih banyak,
sehingga kebutuhan akan makanan siap saji semakin tinggi, dan ini berkembang ke arah tuntutan
bagaimana menemukan kemasan yang langsung dapat dimasukkan ke oven tanpa harus
memindahkan ke wadah lain, serta permintaan akan single serve packaging juga menjadi meningkat

Dikutip dari :
1. Soekarto, S.T., 1990. Peranan Pengemasan dalam Menunjang Pengembangan Industri,
Distribusi dan Ekspor Produk Pangan di Indonesia.
Di dalam : S.Fardiaz dan D.Fardiaz
(ed), Risalah Seminar Pengemasan dan Transportasi dalam Menunjang Pengembangan
Industri, Distribusi dalam Negeri dan Ekspor Pangan. Jakarta.
2. Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan.
Laboratorium Rekayasa Proses Pangan
, PAU Pangan dan Gizi, IPB.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar