Loading...

KEMASAN ALUMINIUM

Written By Bengkel Mesin Packing on Kamis, 26 Januari 2012 | 08.56

Aluminium merupakan logam yang memiliki beberapa keunggulan yaitu lebih ringan
daripada baja, mudah dibentuk, tidak berasa, tidak berbau, tidak beracun, dapat menahan masuknya
gas, mempunyai konduktivitas panas yang baik dan dapat didaur ulang. Tetapi penggunaan
aluminium sebagai bahan kemasan juga mempunyai kelemahan yaitu kekuatan (rigiditasnya) kurang
baik, sukar disolder sehingga sambungannya tidak rapat sehingga dapat menimbulkan lubang pada
kemasan, harganya lebih mahal dan mudah mengalami perkaratan sehingga harus diberi lapisan
tambahan.
Reaksi aluminium dengan udara akan menghasilkan aluminium oksida yang merupakan
lapisan film yang tahan terhadap korosi dari atmosfir. Penggunaan aluminium sebagai wadah
kemasan, menyebabkan bagian sebelah dalam wadah tidak dapat kontak dengan oksigen, dan ini
menyebabkan terjadinya perkaratan di bagian sebelah dalam kemasan. Untuk mencegah terjadinya
karat, maka di bagian dalam dari wadah aluminium ini harus diberi lapisan enamel.
Secara komersial penggunaan aluminium murni tidak menguntungkan, sehingga harus
dicampur dengan logam lainnya untuk mengurangi biaya dan memperbaiki daya tahannya terhadap
korosi. Logam-logam yang biasanya digunakan sebagai campuran pada pembuatan wadah
aluminium adalah tembaga, magnesium, mangan, khromium dan seng (pada media alkali).
 
1. Aluminium foil

Aluminium foil adalah bahan kemasan berupa lembaran logam aluminum yang padat dan
tipis dengan ketebalan <0.15 mm. Kemasan ini mempunyai tingkat kekerasan dari 0 yaitu sangat
lunak, hingga H-n yang berarti keras. Semakin tinggi bilangan H-, maka aluminium foil tersebut
semakin keras.
Ketebalan dari aluminium foil menentukan sifat protektifnya. Jika kurang tebal, maka foil tersebut
dapat dilalui oleh gas dan uap. Pada ketebalan 0.0375 mm, maka permeabilitasnya terhadap uap air
= 0, artinya foil tersebut tidak dapat dilalui oleh uap air. Foil dengan ukuran 0.009 mm biasanya
digunakan untuk permen dan susu, sedangkan foil dengan ukuran 0.05 mm digunakan sebagai tutup
botol multitrip.
Sifat-sifat dari aluminium foil adalah hermetis, fleksibel, tidak tembus cahaya sehingga dapat
digunakan untuk mengemas bahan-bahan yang berlemak dan bahan-bahan yang peka terhadap
cahaya seperti margarin dan yoghurt. Aluminium foil banyak digunakan sebagai bahan pelapis atau
laminan.
Kombinasi aluminium foil dengan bahan kemasan lain dapat menghasilkan jenis kemasan baru yang
disebut dengan retort pouch. Syarat-syarat retort pouch adalah harus mempunyai daya simpan yang
tinggi, teknik penutupan mudah, tidak mudah sobek bila tertusuk dan tahan terhadap suhu sterilisasi
yang tinggi.
Retort pouch mempunyai keunggulan dibanding kaleng, yaitu :
- luas permukaan besar dan kemasannya tipis sehingga memungkinkan terjadinya penetrasi
panas yang lebih cepat dan lebih efisien.
- dengan berkurangnya waktu sterilisasi, maka mutu produk dapat diperbaiki, karena nilai
gizinya lebih tinggi dan sifat-sifat sensori seperti rasa, warna dan tekstur dapat dipertahankan.
- dari sisi konsumen, retort pouch lebih disukai karena praktis dan awet.
- produk yang telah disterilisasi dalam kemasan retort pouch dapat langsung dikonsumsi tanpa
harus dipanaskan.
- pemanasan cukup mudah, yaitu dengan cara memasukkan kemasan retort pouch ke dalam air
mendidih selama 5 menit.
- dapat dipanaskan dalam microwave oven
- mudah dalam hal menyobek atau membuka kemasan
- harga lebih murah, karena dapat menghemat penggunaan garam, energi dan peralatan.
Jumlah larutan gula/garam yang digunakan sebagai pengisi dapat dikurangi sampai 30%,
energi untuk mensterilkan 25% lebih irit dibanding kaleng dan peralatan dalam retort pouch line
berlangsung dengan kapasitas maksimum. Untuk 60 pouch/menit/mesin diperlukan hanya 3
jenis mesin yaitu mesin pembentuk, pengisi dan penutup.
Contoh kemasan retort pouch adalah kemasan yang terdiri dari poliester-adhesif-aluminium foiladhesif-
polipropilen, dengan susunan sebagai berikut :
- film polister dengan tebal 0.5 mil di bagian luar
- kertas aluminium dengan tebal 0.0035 inchi di bagian tengah
- bagian dalam dilaminasi dengan polipropilen
Poliester dan polipropilen dapat bekerja sebagai adhesif bagi aluminium foil dan dapat ditutup
secara kuat dengan pemanasan. Fungsi poliester adalah untuk memberikan ketahanan dan kekuatan
pada kemasan. Poliester juga bersifat tahan tekanan dan dapat dicetak, sehingga pencetakan label
kemasan dapat dilakukan di bagian poliester ini. Aluminium foil memberikan perlindungan bahan
sehingga tahan disimpan tanpa pembekuan dan pendinginan, karena permeabilitasnya yang rendah
terhadap sinar, uap air, O2 dan mikroba. Polipropilen bersifat inert, dapat direkatkan secara kuat
dengan panas (heat seal) dan mempunyai daya simpan (shelf life) sama dengan kaleng.
Bentuk lain dari kantung aluminium foil adalah bag in box system, yang terdiri dari 3 (tiga) lapisan
bahan kemasan yaitu polietilen-saran- polietilen. Kemasan ini digunakan untuk susu, wine, minyak
goreng dan kacang. Susu homogenisasi yang dikemas secara aseptis dengan kemasan bag in box
system, mempunyai masa simpan 9 bulan pada susu kamar.
 
2. Penggunaan Aluminium untuk Kemasan Bahan Pangan

Aluminium dapat digunakan untuk mengemas produk buah-buahan dan sayuran, produk
daging, ikan dan kernag-kerangan, produk susu dan minuman. Penggunaan kemasan aluminium
untuk bahan-bahan ini harus memperhatikan beberapa kondisi sebagai berikut :
a. Produk Buah-buahan dan Sayuran
Aluminium yang digunakan untuk mengemasan produk buah-buah harus dilapisi dengan enamel
untuk mencegah terjadinya akumulasi gas hidrogen yang dapat menyebabkan terbentuknya
gelembung gas dan karat. Penyimpangan warna pada saus apel yang dikemas dengan aluminium,
dapat dicegah dengan menambahkan asam askorbat .
b. Produk daging
Pengemasan daging dengan wadah aluminium tidak menyebabkan terjadinya perubahan warna
sebagaimana yang terjadi pada logam lain. Produk yang mengandung asam amino dengan sulfur
seperti daging dan ikan dapat bereaksi dengan besi dan membentuk noda hitam. Penambahan
aluminium yang dipatri pada kaleng tin plate dapat mencegah pembentukan noda karat. Pada
produk daging yang berkadar garam tinggi dan mengandung bumbu yang mudah berkarat, maka
penambahan gelatin dapat mengurangi sernagan karat pada logam.
c. Ikan dan Kerang-kerangan
Pengemasan ikan sarden dalam minyak atau saus tomat dan saus mustard degan kemasan
aluminium yang berlapis enamel, maka pH nya tidak boleh lebih dari 3.0, karena jika lebih besar
enamel tidak dapat melindungi produk. Pengemasan lobster dengan kaleng aluminium tidak
memerlukan kertas perkamen yang biasanya digunakan untuk mencegah perubahan warna pada
kaleng tinplate.
d. Produk-produk susu
Kemasan aluminium untuk produk susu memerlukan lapisan pelindung, terutama pada susu
kental yang tidak manis. Penggunaan aluminium untuk produk-produk susu seperti margarin
dan mentega, berperan untuk memberikan sifat opaq sehingga menjadi sekat lintasan bagi cahaya
dan O2.
e. Minuman
Pengemasan minuman dengan wadah aluminium harus diberi pelapis, yaitu epoksivinil atau
epoksi jernih untuk bir dan epoksivinil atau vinil organosol untuk minuman ringan atau minuman
berkarbonasi. Pengemasan teh dengan aluminium yang tidak diberi lapis dapat menyebabkan
terjadinya perubahan warna dan flavor.

Dikutip dari :
1. Syarief, R., S.Santausa, St.Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan.
Laboratorium Rekayasa Proses Pangan
, PAU Pangan dan Gizi, IPB.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar